(Kitab) 100 Pertanyaan Tentang Islam
[1] Apa Itu Islam? Dan Mengapa Dinamakan Demikian?
Islam adalah tentang menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. Atas dasar al-sam’u wa al-thā’ah (Pendengaran dan Ketaatan). [Luqman 31: 22]
Bagaimana hubungan yang terjadi antara Sang Pencipta dengan hamba-Nya? Apakah acuh tak acuh? Atau malah pengingkaran dan keberpalingan? [Al-Imran 2: 19]
Sejatinya, barangsiapa yang tunduk kepada Rabbnya, maka seolah-olah orang tersebut sedang berkomunikasi dengan alam sekitar yang juga sedang menyembah Rabb yang sama. [Al-Imran 2: 83]
Islam adalah kata yang merepresentasikan sebuah risalah yang telah ada sejak awal terciptanya dunia ini sampai sekarang.
Israel [1] berpesan kepada umatnya untuk selalu beriman dan berserah diri kepada Allah[Al-Baqarah 2: 133]. Akan tetapi, sebagaimana yang kita ketahui saat ini, negara yang dinisbatkan kepada nama tersebut merupakan sebuah titik ‘kekosongan’. Hal itu disebabkan nihilnya jiwa penghambaan mereka kepada Allah Swt.
Jika belum memahami konsep ketuhanan Allah Swt. Dan penghambaannya, juga tidak tunduk atas segala perintahnya, maka belum bisa dikatakan sah hakikat keislaman seseorang. [Al-Kahfi 10: 68-69]
Penulis berkata: “Tidak akan pernah bertemu kepasrahan diri kepada Allah dengan pembangkangan, dan juga ketundukan kepada-Nya dengan penolakan terhadap perintahnya”
Akan tetapi, ketika seorang muslim tergelincir kepada sebuah dosa, maka muslim tersebut berlepas diri dari maksiat tersebut dengan penuh rasa malu dan penyesalan. Terkadang, cahaya dan energi hati bisa habis, dan saat itulah hati kita secara tidak sengaja jatuh kepada kemaksiatan.
Maka, Rasulullah Saw. menolak untuk diturunkannya adzab kepada orang yang kecanduan khamr, karena orang tersebut akal sehatnya sedang dikalahkan oleh rasa kecanduannya. Lain cerita dengan orang yang sengaja menanam anggur kemudian mengolahnya menjadi khamr, itu bukan golongan yang Rasulullah Saw. minta untuk tidak diturunkan adzab, akan tetapi itu adalah penjahat yang sesat dan menyesatkan.
Menjalankan segala perintah Allah Swt. Dan menjauhi segala larangan-Nya adalah sebenar-benarnya hakikat sebuah kebenaran universal yang bernama Islam.
[2] Mengapa Islam Sebagai Agama Penutup?
Islam mencakup seluruh risalah yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum Muhammad Saw. (Ulul Azmi dan para pembawa risalah penting)
Adapun Muhammad Saw. adalah nabi yang membawa risalah islam yang bersifat kekal dan universal. Bukan hanya dikhususkan kepada umat dan kelompoknya saja.
Kemudian, setelah dibekali nash-nash Al-Qur’an dan Hadits, umat islam diberikan kekuatan untuk menggunakan akalnya dalam menerapkan dua hal tersebut dalam kehidupannya. Seperti musyawarah, jihad dan keadilan. Hal tersebut merupakan nilai-nilai agama yang terdapat dalam nash. Akan tetapi, sarana mewujudkannya bisa dilandasi dengan ijtihad akal. Yang tentunya tidak melenceng dari prinsip-prinsip Islam yang lain.
Terkadang, muncul kondisi dimana akal harus berijtihad terhadap permasalahan yang terjadi pada saat ini dan belum pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw. Yang tentunya juga tidak melenceng dari prinsip-prinsip Islam yang terdapat pada Al-Qur’an dan Hadits.
“Mengapa islam sebagai agama penutup?” Pertanyaan ini muncul dikarenakan kekosongan dan kelalaian umat islam itu sendiri.
“Dimana ada keadilan dan kasih sayang, maka di situ terdapat Syariat Allah. Di mana ada kemuliaan, kebebasan dan kemaslahatan, maka di situ terdapat syariat Allah”
Islam adalah keterkaitan antara taat kepada Allah dengan profesionalitas dalam bekerja. [Al-Baqarah 2: 111-112]
Islam juga menjadi lemah karena cenderung disusupi oleh hal-hal yang tidak baik, seperti bid’ah dan khurafat dan juga rancunya iman, disposisi antara rukun dengan sunnah.
[3] Apakah Manusia yang Lurus dan Arif Dapat Hidup Tanpa Islam?
Andai beragama adalah sebuah kebodohan, maka Muhammad al-Ghazali akan hidup tanpe beragama.
Masalah yang muncul pada kalangan da’i sekarang adalah pada cara penyampaiaannya. Sehingga membuat non muslim berpaling terhadap Islam.
Sedangkan orang-orang yang menggeluti keislaman, malah membuat statement aneh yang seolah-oleh menggambarkan islam menjunjung tinggi pengekangan dan pembodohan kaum perempuan (salah satu contoh kasus)
“Dia menjual untanya seharga 1 dirham, akan tetapi jika ingin membeli unta tersebut dia juga mensyaratkan tali kendalinya seharga 10.000 dirham” kemudian orang lain menimpali perkataannya: “ alangkah murahnya unta ini jika tanpa tali kendali terlaknat ini”
Cerita diatas memperumpamakan islam sebagai unta, sedangkai dai-dai yang salah dalam cara menyampaikan Islam itu seperti tali kendali yang terlaknat tersebut.
Seorang pakar atom membocorkan rencana Amerika Serikat kepada oposisinya, yaitu Rusia. Kemudian Amerika marah besar terhadap orang tersebut karena diaanggap sebagai pengkhianat bangsa.
Amerika hanyalah sebuah negara diatas wilayah daratan tertentu, jika memang seperti itu, bagaimana ceritanya dengan penghianatan kepada Allah Jalla wa ‘ala yang menciptakan daratan tersebut? Sungguh orang yang menghianati Allah adalah orang yang enggan mencari kebenaran. [Al-Furqan 25: 43-44]
Bagaimana mungkin Yahudi sebagai agresosr konsep kekuasaannya dapat diterima? Sedangkan Islam sebagai pihak yang bertahan dan memiliki konsep-konsep yang jauh sempurna terhadap kultur kehidupan malah ditolak mentah-mentah?
Islam adalah gagasan, sedangkan muslim adalah manusia. Tidak ada yang salah dengan gagasan, yang salah adalah seorang muslim yang salah dalam merepresentasikan gagasan tersebut.
Ateis yang mengingkari adanya tuha, maka hakikatnya dia sedang pesimis dengan dirinya sendiri dan dunia.
Bagaimana mungkin tidak menolak konsep kehidupan, sedangkan malah menolak konsep ketuhanan.
Ateis selalu ber-argumen dengan akal. Di dalam islam terdapat manqûl dan ma’qûl, akan manusia yang penuh dengan kekurangan tidak bisa menerima seluruh apa yang disampaikan oleh manqûl dan Pembuatnya . Contohnya: Apa itu roh? Tidak ada akal yang bisa menjelaskan tentang roh. Yang berhak menjelaskan hanyalah Allah Jalla wa ‘ala.
Jikalau non muslim tertarik dengan islam karena kelakuan muslim, maka non muslim juga tidak tertarik dengan perilaku muslim yang menyeleweng. Sehingga membuat mereka tidak lagi simpati dengan islam.
[4] Bagaimana Islam Dibangun di Atas Lima Rukun? Apa Saja Lima Rukun Itu? Mengapa Hanya Lima Saja?
Islam seperti manusia, ada fase-fasenya. Mulai dari bayi, baligh, dewasa hingga sempurna. Pada era rasul sebelum Muhammad Saw. islam belum sempurna, karena masih terbatas kpd satu kaum.
Islam itu memiliki 70 cabang iman, bukan 5. Maka dari itu islam diatas 5 perkara, bukan terdiri dari lima perkara.
Iman adalah percaya penuh kepada Allah Swt [Al-Baqarah 2:235] [Ali Imran 3:28] [An – Nahl 16:51]
Kita makan dan minum dan bernafas, semuanya diberikan Allah Swt. Tapi kenapa kita masih pelit menyisihkan waktu dalam beribadah kepadaNya?
Kenapa mendirikan shalat? Bukan melaksanakan shalat? Karena mendirikan adalah tentang berjamaah, berkumpul dan meninggikan Kalimatillah
Rukun Islam adalah sesuatu yang bisa dinilai secara dzahir dan dapat menjadi pembeda antara agama Islam dan agama lainnya. Tidak seperti ikhlas, tawakkal dsb.. Maka dari itu islam diatas lima perkara, bukan terdiri dari lima perkara. [ Kutipan – Dr. Abdullah Diiraz]
[5] Bagaimana Kedudukan Tasawwuf Dalam Islam?
Banyak orang yang memandang negatif Tasawwuf. Padahal pada hakikatnya hal tersebut bukanlah tasawwuf.
Tassawuf menjadikan kesukaran dan kejengkelan dalam hati menjadi sebuah keihlasan. Memang agak tidak masuk akal, akan tetapi hal tersebut membawa manusia menjadi lebih baik lagi. [Yusuf 12:33]
Halâwah al-îman itu datang dari ridhomu kepada Allah. Bukan dari dari ridho Allah kepadamu.
Banyak ulama yang ahli fiqh dan syariat, tapi sayangnya hatinya kering. Ini yang sangat berbahaya. Kita semua mengetahui bahwasanya Rasul memiliki hati yang sangat hidup dan tidak kering.
Apa itu Tassawuf?
1. Mengkaji jiwa agar selalu bersih jiwanya dan memperbaiki dorongan amal agar agar tidak menjadi perbuatan ujub, riya’ dan sum’ah
2. Melatih diri untuk selalu mencapai derajat ihsan.
3. Memperhatikan ayat kawniyyah yang ada di dalam diri, agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Muhammad al-Ghazali menilai karya-karya dari ibn ‘Athâillah as-Sakandari sebagai karya karya yang memanifestasikan percikan cayaya Al-Qur'an.
[19] Mengapa Rasulullah Saw. Mengangkat Pedang (Dalam Dakwahnya) dan Tidak Mencukupkan dengan Argumentasi yang Meyakinkan?
Jika perang yang dilakukan Rasulullah Saw. dianggap sebagai salah satu cara untuk meyakinkan orang lain (mendakwahkan) terhadap agama islam, maka pemikiran tersebut merupakan sebuah kesalahan besar.
Allah Swt. Berfirman:
﴿ وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْ… ٢٩ ﴾ ( الكهف/18: 29)
Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” (Al-Kahf/18:29)
Sesungguhnya islam mengerti, bahwasanya agama selain islam tidak akan bisa dihilangkan begitu saja. Cukuplah agama islam sebagai pusat sebuah kebenaran dan pedoman pengingkaran terhadap kebathilan.
﴿ وَلَىِٕنْ اَتَيْتَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ بِكُلِّ اٰيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَآ اَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍۗ … ﴾ ( البقرة/2: 145)
Dan walaupun engkau (Muhammad) memberikan semua ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi Kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. (Al-Baqarah/2:145)
Ketika anda tidak menerima kebenaran islam, maka hal tersebut tidak akan sedikitpun menggoyahkan islam kami. Hal tersebut tersirat pada petikan akhir surat yang dikirimkan oleh Rasulullah Saw. kepada Heraklius [2] , dengan mengutip Surat Al-Imran ayat 3 “ Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim .”
Umat islam dianggap sebagai perpanjangan bias teologi kaum Ārīsiyyīn [3] . Bangsa Romawi berusaha untuk menetralisir peradabannya dari para penganut paham Ārīsiyyīn. Pembantaiaan terjadi dimana-mana. Dan inilah yang menyebabkan terpantiknya gerakan angkat senjata oleh umat Islam.
Bayangkan saja bagaimana keadaan islam saat itu jika tanpa tendensi Islam kita yang ‘keras’, Nabi yang tangguh, dan para pejuang Islam? Bagaimana keadaan islam sekarang? Bagaimana keadaan muslim sekarang? Tentunya sangat menyedihkan. Allahu ‘alam.
Jika dalam keadaan seperti itu, argumentasi bukanlah strategi yang tepat untuk memenangkan pertempuran. Perlu dilakukan sebuah manuver strategis yang lebih dari sekedar argumen untuk mengalahkan bangsa Romawi.
Sejatinya, Islam merupakan sebuah agama yang penuh dengan argumentasi. Hal tersebut lahir dari mutlaknya kebeneran entitas-entitas syariat yang dimiliki oleh Islam. Jika mereka tidak mengindahkan dan melakukan sebuah kedzāliman terhadap argumentasi Islam, maka mengangkat senjata demi mempertahankan diri dan aqidah mereka adalah jalan terakhir untuk berjuang.
Allah Swt. Berfirman:
﴿ اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙ ٣٩ ۨالَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ … ٤٠ ﴾ ( الحج/22: 39-40)
Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sung-guh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu, (40.) (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” (Al-Hajj/22:39-40)
Perang terhadap Persia dimulai ketika Kisra merobek surat yang dikirimkan Rasulullah Saw. kepadanya dalam rangka memeluk agama Islam. Hal tersebut dikerenakan, persia menjajah Iraq, dan Kisra tidak sudi mendapatkan nasihat dari Muhammad Saw. yang notebene adalah orang arab. Dengan demikian, konflik tersebut akan sulit terselesaikan tanpa adanya perang antara Muslim Arab dengan Romawi Persia.
Maka hal tersebut menjelaskan, bahwasanya Islam bukanlah agama yang menjadikan peperangan sebagai sebuah metode dakwah Islam kepada orang lain. Hal tersebut tidak akan dilakukan oleh umat Islam jika tanpa alasan yang kuat yang mana mengancam keselamatan dan aqidah umat islam itu sendiri. Tidak ada paksaan dalam memeluk sebuah agama!
[20] Jihad, Upaya Defensif Umat Islam, atau Lebih dari Sekedar Itu?
Ada tiga kondisi umat islam wajib berperang:
[1] Mencegah fitnah, karna disebagian negara, beberapa umat islam dipaksa untuk murtad, dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Hal tersebut harus dihentikan. Al-Anfal 39-30
[2] Mengamankan perjalanan dakwah. Umat islam punya hak yang sama seperti agama lain untuk menyebarluaskan teori teologinya. Akan tetapi hal tersebut dipersulit, maka umat islam boleh untuk memeranginya.
[3] Menjaga darah, harta, kehormatan. Jika ada pihal lain yang merampasnya secara paksa, maka diperkenankan untuk membela diri dengan peperangan. Al-Syura 39-40
Adapun beperang untuk memenuhi nafsu dan kepentingan pribadi, her tersebut mutlak diharamkan. Al-Baqarah 256
Rasulullah mempunya keingin besar agar seluruh umat manusia dimuka bumi memahami risalah kebenaran yang beliau sampaikan. Akan tetapi konsep pemaksaan sebuah entitas terhadap dīn tidak ada dalam islam. [Yunus 99, Hud 28, Al Ghasiyah 21-22, Qaf 5, Al-Syura 48] dan masih banyak ayat lainnya (120 ayat)
Sebuah ulama besar mengatakan: “Setelah usai penaklukan Mekkah maka Rasulullah Saw. berkata: ‘Pergilah! Kalian semua bebas!” bahwa Rasulullah Saw. tidak memaksa orang lain memeluk agama islam.
Ada sebagian pendapat aneh yang mengatakan bahwa ayat “lā ikrāha fiddīn” telah di nasakh. Hal tersebut yang menyebabkan para penguasa yang gila akan kekuasaannya merasa diatas angin dan bertindak semena-mena terhadap muslim dan non-muslim untuk mememenuhi hasrat pribadinya.
Sejatinya, pemaksaan adalah cara orang orang yang pendek akal dan culas dalam berargumentasi. Sehingga menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya.
[21] Apakah Kewajiban Jihad Masih Tetap Ada? Dan Apa Kewajiban Umat Islam Saat Ini Terhadapnya?
Zaman sekarang, dimana banyak sekali kedzaliman, merupakan waktu terbaik untuk melakukan jihad. Akan tetapi, jihad yang harus dilakukan saat ini adalah jihad pengajaran, penelitiaan, pembangunan, penegakkan keadilan dlsb. Bukan jihad angkat senjata.
Dahulu, islam dihancurkan melalui teriakan amoral secara terang-terangan. Akan tetapi sekarang, dilakukan secara halus dan mematikan.
Pembentukan dunia baru tidaklah semata-mata berlandaskan ekonomi saja, akan tetapi salah satu landasan pembentukannya adalah agama (gold, glory, gospel)
Ada strategi pembentukan lama dan baru.
Strategi lama:
[1] Setelah melemahkan khilafah, seteleha PD 1 khilafah resmi dihapuskan.
[2] Kolonialisme membuat corak negara sesuai keinginan mereka.
[3] Membangun jiwa nasionalisme berlandaskan paham sekularisme dan komunisme.
[4] Membunuh karakter dan menciptakan adu domba tidak penting terhadap sebuah negara yang kuat dalam beragama.
[5] Mendukung pertumbuhan aliran-aliran sesat dan membiarkan orang bodoh yang fanatik akan agama berada dalam kesesatan.
[6] Meniadakan atmosfir pendidikan lokal. Jikapun ada, maka pemimpin lembaga tersebut dipilih dari orang-orang bodoh.
[7] Membiarkan umat islam terbelakang dalam hal kultural (ekonomi, politik dsb). Menjadikan umat islam konsumen tetap, bukan produsen.
Mengapa Yahudi boleh berpegang teguh dengan Tauratnya dalam menentukan eksistensi mereka, sedang umat Islam tidak? Mengapa paham atheisme dari Karl Max sangat dihormati, sedangkan al-qur’an dianggap sebagai sebuah keterbelakangan?
Jihad merupakan fardhu ‘ain bagi setiap muslim sebelum terpenuhinya hak hidup mereka tanpa tekanan dan intimidasi. Jihad yang baik adalah memperbaiki sebab-sebab ketertinggalan kita sebagai umat Islam, mulai dari aspek kultural (ekonomi, politik) sampai doktrinal.
[22] Apa Makna Dari: Allah Telah Menjadikan Umat Islam Sebagai “Ummatan Wasathan” ?
Sebuah kebenaran akan hilang diantara sifat berlebih-lebihan (ifrāth) dan menyia-nyiakan (tafrīth).
Yahudi bersikap tamak dengan dunia, Nasrani sebaliknya, dunia adalah sebuah kehinaan, sampai dikatakan dalam buku-buku mereka: “Masuknya onta ke dalam lubang jarum lebih mungkin ketimbang masuknya orang kaya ke surga”
Islam datang dan menolak konsep-konsep tersebut. Rasulullah Saw. bersabda harta merupakan hal yang indah, sebaik-baiknya muslim ialah yang menginfakkannya kepada yatim. Dan siapa yang mencarinya dengan cara yang tidak dibenarkan, maka akan menjadi saksi kelak di hari kiamat. [HR: Bukhari]
Islam mengasihi pelaku maksiat agar tidak berputus asa dan menolak konsep ibadah yang penuh dengan kesombongan. Ali bin Abi Thalib berkata: “Fakih yang sebenar-benar faqih adalah yang tidak membuat orang lain berputus-asa dari Rahmat Allah dan tidak memberikan rasa aman dari tipu daya-Nya”
Nabi Isa As. Berkata bahwa kita sebagai manusia tidak layak untuk melihat dosa-dosa orang yang bermaksiat layaknya Tuhan. Manusia fitrahnya memang diberi ujian, maka seyogianya kita menyayangi mereka. [Kutipan-Imam Malik.]
Ada orang-orang meyimpang ke kanan, dengan semangat palsu yang mereka miliki juga bid’ah munkarah dan syariat baru yang mereka buat. Ada juga orang-orang yang melenceng ke kanan, mereka adalah golongan orang-orang yang meremehkan syariat islam. [Kutipan-Syaikh Muhammad Abdullah Diraz.]
Islam menerapkan konsep ‘Wasathan’ dalam setiap aspek ibadah dan dunia. Segala aktfitas, pasti akan ada fluktuasi gairah dan semangat. Hal tersebut sangatlah wajar. Siapa yang semangatnya dilandaskan lillāhi ta’āla, maka beruntunglah dia, jika landasannya adalah pujian orang lain, maka celakalah dia. [Hadits] [Al-Furqan 67]
Ada seorang muslim yang ahli dalam bidang Al-Qur’an dan Hadits (manqūl) dan logika (ma’qūl), akan tetapi hatinya gersang. Itu disebabkan hatinya tidak disirami dengan ‘ilmu hati’ dan perasaan islam.
Sangat disayangkan, saat ini terjadi dikotomi antara Fiqh dan Tasawuf, hal tersebut tekadang menyebabkan banyak seorang sufi menjadi gila, dan banyak hakim menjadi kejam dan gersang hatinya.
Dalam hal mengatur perempuan sebagai ibu peradaban dan aspek ekonomi, islam mempunyai sistem tersendiri yang berlandaskan tendensi ‘wasathan’. Maka tugas kita adalah berjihad untuk mewujudkan kembali semangat ‘wasathan’ tersebut dalam segala dimensi keislaman.
[1] Julukan yang mulia bagi Nabi Ya’qub As.
[2] Heraklius (bahasa Latin: Flavius Heraclius Augustus; bahasa Yunani: Φλάβιος Ἡράκλειος, Flavios Iraklios; lahir: ca. 575; wafat: 11 Februari 641) adalah Kaisar Romawi Timur dari tahun 610 sampai tahun 641. Ia adalah kaisar yang menetapkan bahasa Yunani sebagai bahasa resmi Kekaisaran Romawi Timur.
[3] Para pengikut Ariyus, seorang uskup Romawi yang memimpin gerakan Tauhid dalam sejarah gereja dan menolak dnegan tehas bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Allah
Comments
Post a Comment