(Kitab) Ta'lim Muta'allim
Pentingya menuntut ilmu
Rasulullah SAW pernah bersabda:
طلب العلم فريضة على كل مسلم [1]
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim” - dalam riwayat lain dikatakan 'ala kulli mu’minin (bagi setiap mu’min)
Seperti apa yang nabi katakan diatas, bahwasanya menuntut ilmu adalah sebuah aktifitas yang sangatlah penting dilakukan oleh setiap muslim. Bahkan sampai Rasulullah menggunakan kata farīḍah dalam menggambarkan betapa pentingnya esensi menuntut ilmu. Kata farīḍoh diambil dari huruf fa’-ro’-dho’ (ف - ر - ض) yang dalam istilah fiqh artinya adalah:
العمل الواجب على المسلم المكلف ان يعمله, فتاركه يأثم و فاعله يؤجر
"Sebuah pekerjaan wajib yang dilaḥkukan oleh seorang muslim yang sudah dibebani atau dipercayakan, maka siapa yang meninggalkannya mendapat dosa, dan yang melakukannya mendapat balasan (pahala)"
Ilmu Apa yang Wajib Dipelajari?
Adapun ilmu apa saja yang wajib dipelajari oleh seorang muslim, dikatakan oleh Imam Zarnuji dalam kitab Ta’līm Muta’allim bahwasanya tidak diwajibkan kepada muslim dan muslimah untuk belajar semua cabang keilmuan, akan tetapi diharuskan untuk belajar ilmu hāl, apa itu ilmu hāl ?
Beliau menjelaskan bahwasanya ilmu hal yang harus dipelajari adalah:
فإنه لابد من الصلاة … و كذالك في الصوم و الزكاة و الحج إن وجب عليه
"Sesungguhnya dia (ilmu hal) adalah sholat, juga puasa, zakat dan haji jika diwajibkan kepadanya"
Imam Zarnuji juga mengatakan bahwasanya ada aspek-aspek penting yang wajib dipelajari juga selain ilmu hal yang tadi telah disebutkan, yaitu ilmu dalam bermu’āmalah, dan ilmu tentang apa apa yang diharamkan oleh agama sehingga kita bisa menjauhinya, juga ilmu tentang ahwālul qulūb (keadaan hati), mulai dari tawakkal, sabar, khusyu, ridho dsb.
Perbedaan Manusia Dengan Hewan
Manusia dan hewan memiliki banyak kesamaan, contohnya sepertisyajā’ah (keberanian), quwwah (kekuatan) bahkan syafaqah (rasa kasian), akan tetapi ada satu hal yang sangat penting dan fundamental yang dimiliki oleh manusia dan membedakannya dengan hewan, yaitu ‘ilm (akal). Dan dengan baiknya keadaan ilmu seseorang, maka hal itu akan menjadi wasilah menuju taqwa kepada Allah Jalla wa 'Ala.
Faqih, Syaithan dan Budak
Penyair Arab mengatakan:
تعلم فإن العلم زين لأهله # و فضل و عنوان لكل المحامد
"Belajarlah! karena ilmu adalah perhiasan, keistimewaan, simbol (yang baik) dan kebaikan-kebaikan lainnya untuk orang yang memilikinya -pen"
فإن فاقها واحدا متورعا # أشد على الشيطان من ألف عابد
"Sesungguhnya seorang faqih yang menjauhi keharaman, lebih (baik) daripada syaithan dan seratus buak "
Seorang faqīh yang beribadah kepada Allah dan mengajak orang lain kepada kebaikan, jelas lebih baik daripada syaithan yang mengajak kepada keburukan, juga seorang faqih yang menyerukan dan menggaungkan syariat islam akan lebih baik dari seorang budak yang hanya beribadah kepada Allah akan tetapi tidak menyeru kepada kebaikan.
Maka dari itu, mudah-mudahan kita semua menjadi seorang faqīh yang sebenar-benarnya, bukan faqih yang ternyata hanya seorang ‘budak’, apalagi seorang faqih yang na’udzubillah ternyata malah mengajak kepada keburukan.
Niat Dalam Menuntut Ilmu
Rasulullah bersabda:
كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا و يصير بحسن النية من أعمال الآخرة و كم من عمل يتصور بصورة أعمال الآخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية
“Berapa banyak amal perbuatan yang bentuknya seperti amal perbuatan dunia dan dengan niat yang baik menjadi amalan akhirat, dan berapa banyak amal perbuatan yang bentuknya seperti amalan akhirat malah menjadi amalan dunia dengan niat yang buruk”. [2]
Amalan Dunia dan Amalan Akhirat
Makna dari amalan dunia pada hadits diatas menurut Syeikh Ibrahim bin Ismail dalam Syarh Ta’līm Muta’allim Tariq at-Ta’allum adalah amal perbuatan yang “la tsawāba laha” (tidak berpahala).
Sedangkan makna dari amalan akhirat pada hadits diatas adalah sebuah amalan perbuatan yang diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah Swt. dan akan otomatis dihadiahi oleh Allah Swt. pahala, walaupun amal perbuatan tersebut hanya sebatas makan dan minum.
Itu artinya, perbuatan yang sepertinya hanya makan dan minum akan tetapi didasari oleh husnu niyyah (niat yang baik) maka amalan tersebuat akan berpahala.
Sedangkan barangsiapa yang melakukan amal perbuatan seperti sholat, zakat dan puasa, akan tetapi didasari oleh sū’ niyyah (niat yang buruk) maka amal perbuatan tersebut menjadi la tsawāba lahā (tidak berpahala).
Orientasi Menuntut Ilmu
Ada sebuah syair yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah:
من طلب العلم للمعاد # فاز بفضل من الرشاد
“Barang siapa yang mencari ilmu dengan tujuan akhirat, maka dia telah menang dengan keistimewaan jalan menuju surga -pen”
Disini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwasanya mencari ilmu dengan niat yang baik dan berorientasi akhirat, maka orang tersebut telah sukses mendapatkan label seorang pemenang dan juga dinaungi oleh keistimewaan dan kebaikan yang ada pada proses menuju surganya Allah Azza wa Jalla.
Maka dari itu, sudah sepatutnya kita menjaga niat kita dalam segala
aktifitas yang kita lkaukan, agar nantinya tidak menjadi amal perbuatan
yang sia sia, dikarenakan niat kita yang salah dalam melakukan amal
perbuatan tersebut, ataupun secara ẓahīr-nya (tampak-nya)
merupakan amal perbuatan yang orientasinya adalah akhirat dan akan diganjar
pahala oleh Allah Swt.
Kesungguhan Dalam Belajar
Seorang thalibul ilmi wajib hukumnya untuk memiliki kesungguhan dalam belajar, seperti apa yang diisyaratkan oleh sebuah ayat Al - Qur’an:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S Al-Ankabut :29)
Ada sebuah syair arab juga mengatakan:
من طلب شيئا وجدّ وجد # و من قرع الباب ولجّ ولج
“Barangsiapa yang mencari sesuatu dengan bersungguh sungguh, maka dapatlah ia dan barang siapa yang mengetok pintu dengan giat, maka dapatlah apa yang ia inginkan -pen”
Kesungguhan dalam mencari ilmu adalah kunci sebuah pemahaman, bersungguh sungguhnya kita belajar uṣūl dan furū’ sebuah keilmuan tentunya bertujuan agar malakah ilmu pada bidang tersebut menjadi kokoh.
Dan permasalahan thalibul ilmi pada akhir dekade ini, ialah, mereka memiliki keinginan yang sangat kuat untuk memiliki penguasaan terhadap sebuah ilmu, akan tetapi tidak siap berjuang dan bersungguh-sungguh dalam menikmati santapan uṣūl dan furū’ ilmu tersebut.
Seperti apa yang dikatakan penyair arab:
بقدر ما تتعنى تنالى ما تتمنى
“ Seperti apa yang kamu usahakan (dengan sungguh-sungguh), maka itulah yang kamu dapat”
Syair diatas semakin mempertegas bahwa kadar usaha kita dalam mencapai sesuatu, merupakan tolak ukur dari bagaimana hasil dari sesuatu yang ingin kita capai, jika pada prosesnya penuh dengan perjuangan, maka hasilnya pun sering kali juga penuh dengan senyuman kebahagiaan.
Mental Kutu Loncat
Kemudian, timbulah pertanyaan, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai thalibul ilmi, agar proses yang kita jalani dalam membentuk malākah keilmuan dalam diri, bisa dikatakan sebagai proses belajar yang termasuk dalam koridor bersungguh-sungguh ?
Abu Tayyib mengatakan:
و لم أرى في عيوب الناس عيبا # كنقص القادرين على التمام
“Saya belum pernah menganggap aib didalam diri manusia sebagai aib, (lain halnya) seperti tidak menyelesaikannya sesuatu yang seharusnya bisa dia selesaikan -pen”
Betapa meruginya orang orang yang sibuk menghabiskan waktunya untuk hanya sekedar menjadi kutu loncat dalam mendalami bidang-bidang keilmuan, baru mempelajari bahasa arab, kemudian jumawa, akhirnya berganti haluan menjadi belajar fiqh, kemudian merasa bosan, akhirnya loncat menuju bidang hadits dan tafsir.
Ketahuilah, penyakit mental kutu loncat yang ada pada seorang thalibul ilmi, seperti yang dikatakan oleh Abu Tayyib adalah sebuah aib, dan tanda tanda orang yang memiliki penyakit ini adalah naqs al-qādirīn 'ala at-tamāmi , yaitu tidak menyelesaikan sesuatu yang seharusnya bisa dia selesaikan.
Malam yang Panjang
Kemudian, setelah menghilangkan mental kutu loncat, hal apalagi yang menjadi aspek penting dalam mewujudkan esensi bersungguh-sungguh dalam proses menuntut ilmu kita?
Sebuah penyair arab mengatakan:
بقدر الكد تكتسب المعالي # و من طلب العلا سَهَرَ الليالي
Dengan segalam macam upaya kerja keras, maka akan didapatkanlah sebuah kemuliaan, dan barang siapa yang mencari kemulian, maka dihabiskannyalah malam-malamnya (dengan bersungguh-sungguh meraih apa yang diinginkan) -pen”
Begadang untuk ngomong ngalur-ngidul dan ghibah, juga untuk hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya memang tiada gunanya, bahkan hal seperti itu bisa saja malah menambah dosa kita, jika memang tidak ada kepentingan, lebih baik malam tersebut digunakan untuk mengistirahatkan diri, agar pada sepertiga malamnya kita bisa melakukan ibadah seperti tahajjud, membaca qur’an dsb.
Akan tetapi, lain halnya ketika momen begadang tersebut didasari oleh kegiatan kita dalam menuntut ilmu, seperti menganalisa dan memahami uṣūl dan furū’ sebuah ilmu, memecahkan sebuah permasalahan dengan mencarikan solusinya, dan lain sebagainya. Maka hal tersebut dibolehkan, bahkan dianjurkan.
Mudah-mudahan dengan apa yang tadi telah kita bahas diatas, dapat menjadi muhasabah untuk diri kita sendiri, apakah kita sudah benar benar bermujahadah dalam menuntut ilmu atau masih berleha-leha.
Dan yang terkahir, semoga kita juga termasuk orang-orang yang bermujahadah
dalam menuntut ilmu, dan bukan termasuk orang yang berleha-leha didalamnya.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Memilih Guru dan Teman Belajar
Imam Zarnuji mengatakan dalam kitabnya Ta’lim Muta’allim, bahwasanya ilmu yang sebaiknya dipilih oleh seorang muslim adalah ‘ilm al-hāl, dan juga ilmu-ilmu lainnya yang mendukung kesempurnaan ‘ilm al-hāl tersebut.
Apakah maksud dari ilmu hāl? Ilmu hal merupakan ilmu yang berkenaan dengan tingkah laku (perilaku) atau sikap manusia dalam menunaikan kewajiban dirinya.
Contohnya seperti ilmu tauhid dan fiqh, ilmu tersebut menjadi modal utama dalam melakukan ibadah shalat dan puasa. Kemudian juga ilmu yang dapat memberikan māl (harta) kepada sang penuntut ilmu, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tentunya mal tersebut juga menjadi modal utama dalam menunaikan ibadah zakat.
Sebuah kaidah fiqh mengatakan:
ما يتوسل به إلى إقامة الفرض يكون فرضا و ما يتوسل به إلى إقامة الواجب فهو واجبا
“Apa yang menjadi wasilah untuk menegakkan sebuah amalan yang fardhu, maka hukum melakukan wasilah tersebut menjadi fardhu -pen”
Atau sebuah kaidah fiqh lain yang lebih familiar ditelinga kita:
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
“Sesuatu yang menjadikan hal yang wajib menjadi tidak sempurna kecuali karena keberadaannya, maka keberadaan hal tersebut menjadi wajib adanya”
Maka dapat diambil kesimpulan dari dua kaidah diatas, bahwasanya siapa yang ingin melakukan ibadah fardhu ‘aīn (wajib bagi setiap muslim) seperti shalat dan puasa, maka hukum belajar ilmu fiqh sholat dan puasa juga menjadi fardhu ‘aīn, terlepas dari orang yang belajar tersebut masih melakukan taqlid (mengikuti ulama) ataupun sudah memenuhi persyaratan untuk melakukan ijtihad (menentukan sebuah hukum dengan menganalisa dalil-dalil yang ada).
Memilih Guru yang Baik
Kemudian dalam hal mencari guru, Imam Abu Hanifah memberikan sebuah dalam menentukan aspek penting apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru, beliau mengatakan:
وجدته شيخا وقورا حليما صبورا و قال تبثُّ عند حماد بن أبي سليمان فنبتُّ
“Saya menemukannya, seorang guru yang tenang, murah hati dan sabar” kemudian Imam Abu Hanifah berkata “Saya menetapkan hati (memilihnya menjadi guru) pada Hammad bin Abi Sulaiman, maka saya menjadi pribadi yang berkembang (lebih baik dari sebelumnya)”
Aspek penting yang digambarkan Imam Abu Hanifah tentang seorang guru yang baik adalah yang memilik sifat waqūr (berwibawa), halīm (murah hati) dan sabr (sabar).
Kemudian Imam Zarnuji juga menyebutkan bahwa aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang guru yang akan kita pilih untuk berguru kepadanya adalah a’lam (pakar), awra’ (bertaqwa) dan asan (senior).
Bahkan Hakīm as-Samarqandī memberikan nasihat kepada thalibul ilmi yang mendatangi suatu daerah atau tempat untuk belajar, agar berdiam diri terlebih dahulu selama dua bulan untuk mengobservasi dan memilih seorang guru yang memenuhi kriteria dan cocok untuk dirinya.
Agar guru yang didapatkan bisa benar-benar memberikan ilmu yang baik, dan kita sebagai thalibul ilmi bisa maksimal dalam memahami apa yang disampaikan dan diajarkan oleh guru tersebut.
‘Antarah bin Syadād, seorang penyair dari negeri Arab mengatakan:
الشجاعة صبر الساعة
“Keberanian adalah tentang bersabar (dalam kesulitan)”
Disarankan untuk setiap thalibul ilmi agar meneguhkan pendiriannya dan bersabar kepada seorang guru, juga kepada sebuah kitab yang ia pelajari agar tidak mudah meninggalkannya.
Sama halnya juga dalam fan ilmi (bidang keilmuan), jangan sampai seorang thalibul ilmi sibuk berpindah dari satu bidang ke bidang lainnya sebelum menyempurnakan salah satunya.
Dikarenakan, hal tersebut dapat membingungkan pikiran kita dan membuat hati hati ini sibuk dengan kesia-siaan, juga membuat waktu menjadi terbuang percuma.
Memilih Teman yang Baik
Dalam memilih teman pun kita harus memperhatikan beberapa aspek yang ada
dalam diri mereka, menurut Imam Zarnuji, ada empat hal yang sebaiknya ada
dalam diri mereka, yaitu mujid (punya daya juang), war’
(bertaqwa),
ṣāhib al-mustaqīm
(punya kepribadian baik) dan juga mutafahhim (cerdas).
Dan disarankan juga agar tidak berteman (dengan sangat dekat) dengan orang yang memiliki sifat kaslān (pemalas), mu’aṭal (rusak),muktsar (banyak bicara), mufsid (merukas) dan fitan (menghasut). [3]
Sebuah syair yang dibacakan seseorang kepada Imam Zarnuji:
لا تصحب الكسلان في حالته # كم صالح بفساد آخر يُفسَد
“Janganlah engkau berteman dengan pemalas, berpa banyak orang baik yang berteman dengan orang yang rusak, menjadi rusak pula kebaikannya -pen”
Hal yang tidak kalah penting adalah, bukan berarti kita menjauhi orang tersebut dan menutup pintu pertemanan secara mutlak, kalau seperti ini adanya, apa bedanya kita dengan orang sombong yang merendahkan dan meremehkan orang lain?
Tugas kita dalah untuk mengayomi mereka, memberikan pengertian-pengertian bahawasanya apa yang dilakukannya adalah sifat yang tidak baik, tentunya dengan cara hikmah dan juga mau’iẓah al-hasanah (nasihat yang baik).
Maka dari itu, semoga dengan mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih guru dan juga teman dalam menuntut ilmu ini, menjadikan kegiatan menuntut ilmu kita lebih berkah dan lebih baik lagi kedepannya, insyaAllah.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Belajar
Imam Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’alim menyebutkan tentang beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para penuntut ilmu, agar sempurnanya proses menuntut ilmu dan membuat malākah keilmuan seseorang menjadi kuat nan kokoh adanya.
Terdapat beberapa aspek yang beliau bahas dalam kitab tersebut, mulai dari betapa pentingnya mudzakarah wal munaẓarah (diskusi),al-ta’amul bi al-awqāt (memperhatikan waktu), dawām al-syukr (selalu bersyukur), tikrār al-dars (mengulang pelajaran) dsb.
Diskusi dan Saling Bertukar Pandangan
و لا بد من طالب العلم المذاكرة و المناظرة و المطارحة
Disarankan untuk seorang thalibul ilmi, agar melakukan diskusi, dan saling bertukar pandangan terhadap keilmuan yang dia sedang pelajari . [4] Dan hal tersebut harus dilakukan secara inṣāf (jujur), ta’āni (santai), dan juga ta’ammul (teliti) serta menjauhi diskusi yang dilakukan secara syagab atau rusuh dan tidak beraturan.
Tujuan utama dilakukannya diskusi adalah untuk mendapatkan sebuah kebenaran dan solusi dari sebuah permasalahan, dan hal tersebut tidak akan didapatkan jika diskusi dilakukan secara serampangan, apalagi dengan memaksakan kehendak, maka hal itu tidaklah baik untuk dirinya.
Bahkan ada beberapa ulama yang mengatakan:
مطارحة ساعة خير من تكرارشهر
“Melakukan diskusi selama satu jam, lebih baik ketimbang mengulang (apa yang sudah dipelajari) selama satu bulan -pen”
Hal tersebut dikarenakan, dengan berdiskusi kita bisa menemukan pemecahan
dan solusi dari sebuah isykāl (permasalahan) yang kita temui dalam
belajar. Akan tetapi perlu diingat, diskusi harus dilakukan dengan
orang-orang yang
salīm al-ṭab’i
(baik kepribadiannya juga ilmunya).
Waktu dan Kesempatan yang Tidak Kembali
Kemudian beliau juga mengatakan tentang pentingnya seorang thalibul ilmu dalam memperhatikan waktu di kehidupan mereka. Jangan sampai waktu yang Allah berikan dalam satu hari, ada yang digunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan digunakan untuk bermaksiat, hal tersebut merupakan musibah dan bencana bagi seorang Ṭālib al-‘ilmi.
Juga tentang pentingnya kita memanfaatkan setiap keadaan dan kesempatan. Seperti apa yang Rasulullah Saw. sabdakan dalam sebuah hadits:
الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها أخذها
“Kalimat hikmah adalah barang seorang mukmin yang hilang, maka dimana saja ia menemukannya ia lebih berhak untuk mengambilnya.”(HR. Turmudzi dan Ibnu Majah) [5]
Dan beberapa ulama juga mengatakan:
خد ما صفا و دع ما كدُر
“Ambil baiknya, tinggalkan buruknya -pen”
Maka, kebaikan bisa kita dapat dari siapa saja, tidak selalu dari orang yang alim, bahkan tidak menutup kemungkinan kita bisa mendapatkan ilmu dari seorang anak kecil, asalkan hal tersebut sesuai dengan koridor dan batasan-batasan dalam syariat islam.
Tidak Hanya Lisan yang Bersyukur
Seorang thalibul ilmi harus selalu menyibukkan dirinya dengan bersyukur kepada Allah Swt. dan menginterpretasikannya dengan lisan, jiwa, panca indra, seluruh organ tubuh, dan juga hartanya.
Dan selalu berkeyakinan, bahwasanya datangnya pemahaman dan ilmu ialah dari Allah Swt., juga terus berdoa kepadaNya agar selalu diberikan petunjuk dan kemudahan dalam memahami dan mendalami ilmu tersebut. Jangan sampai kita merasa, bahwasanya ilmu yang kita miliki berasal dari kekuatan akal kita dan buku-buku yang kita baca.
و أهل الضلالة أعجبو برأيهم و عقلهم و طلبوا الحق من المخلوق العاجز فهو العقل
“Orang-orang yang sesat merasa takjub dengan pemikiran dan akal mereka, dan mereka meminta kebenaran(pemahaman) kepada sebuah makhluk (yang bernama) akal. -pen” [6]
Ketika kita merasa bahwa ilmu yang kita miliki sekarang ini dikarenakan akal kita yang cerdas, dan buku-buku yang kita baca, maka hal tersebut merupakan perasaan yang dimiliki oleh ahlu al-ḍalālah (orang-orang sesat).
Bagaimana mungkin sebuah kemuliaan (ilmu dan pemahaman) tersebut didapatkannya dengan cara meminta kepada sebuah makhluk yang bernama akal? Padahal ada kekuatan yang jauh lebih besar, yaitu Sang Pencipta Akal itu sendiri.
Sangat nonsense jika dikatakan akal mengetahui segalanya, ia tidak bisa mengetahui apa yang baṣīrah (mata hati) ketahui, jika semua hal bergantung kepada akal, maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan tersesat dan menyasatkan.
Mengulang Kembali, Kembali Mengulang
Mengulang pelajaran adalah aspek fundamental yang harus diprioritaskan oleh seorang thalibul ilmi, karena ilmu yang kita pelajari, jika tidak pernah kita murajaah atau tikrar (mengulai pelajaran) maka bisa jadi tidak utuh lagi, bahkan hilang dan tidak tersisa sama sekali.
Maka sangat disayangkan jika sampai hal tersebut menimpa seorang thalibul ilmi, selain ilmu dan kebermanfaatannya yang hilang, waktu-waktunya yang telah terlewat pun akan menjadi terbuang sia-sia, musibah ini akan terjadi dengan tidak dilakukannya murajaah atau tikrar pelajaran yang lalu.
Seperti hanya untuk belajar sesuatu yang seolah-olah akan dilupakan begitu saja dimasa yang akan datang. Wa al-iyyadzu billah.
Imam Zarnuji menjelaskan sebuah metode mengulang pelajaran yang cukup baik dan menarik. Sebuah metode yang bisa dibilang, mengedepankan aspek dalam penjagaan ilmu ketimbang menambah ilmu.
Dalam satu hari, Imam Zarnuji menganjurkan seorang thalibul ilmi untuk melakukan tikrar pelajaran kemarin sebanyak lima kali, kemudian pelajaran dua hari yang lalu sebanyak empat kali, pelajaran tiga hari yang lalu sebanyak tiga kali, pelajaran empat hari yang lalu sebanyak dua kali dan pelajaran lima hari yang lalu sebanyak satu kali, setelah semua tikrar selesai, barulah memulai pelajaran yang baru, dan metode ini dilakukan secara konsisten.
Dan disarankan untuk seorang thalibul ilmi agar menghindari masafaṭrah (jeda) dalam belajar, karena hal tersebut adalah āfah (penyakit) untuk mereka.
Semoga dengan memperhatikan hal-hal penting diatas, kita bisa menjadi thalibul ilmi yang benar benar memiliki malakah ilmu yang kuat dan bisa memberikan manfaat kepada diri kita dan orang lain, dan tentunya juga li i’lāi kalimātillah wa li iqāmati syarī’atillah. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
[1] Hadits sohih li ghairihi - diriwayatkan Ibnu Majah, dari jalur Anas bin Malik. Hadits ini diriwayatkan juga oleh beberapa sahabat seperti Abu Sa’id al Khudri, Abu Hurairah dan Abdullah bin Mas’ud
[2] Dr. Marwan Qabbani mengatakan tentang hadits ini “lam ajid haditsan bilafdzihi, wa ma’nahu sohih (saya belum menemukan hadits dengan lafadz seperti ini, akan tetapi maknanya benar)”
[3] Syeikh Ibrahim bin Ismail, Syarh Ta’lim Muta’alim, Hal. 40, Daru-l-Bashair, Cairo, 1433 H
[4] Syeikh Ibrahim bin Ismail, Syarh Ta'lim Muta'alim, Hal.79, Daru-l-Bashair, Cairo, 1433 H
[5] Diriwayatkan Turmudzi dan Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah dengan jalur Ibrahim Ibn Al-Fadlal
[6] Syeikh Ibrahim bin Ismail, Syarh Ta'lim Muta'alim, Hal.86, Daru-l-Bashair, Cairo, 1433 H
Comments
Post a Comment