Mufassir, Penyusun Kitab Tafsir dan Kenapa Nabi Muhammad Tidak Membuat Kitab Tafsir.
Perbedaan Antara Mufassir dan Penyusun Kitab Tafsir
Mufassir belum tentu menyusun kitab tafsir, penyusun kitab tafsir juga belum tentu menafsirkan al-Qur’an. Nabi Muhammad, sahabat, dan tabi’n mereka adalah mufassir akan tetapi tidak menyusun kitab tafsir.
Penyusun kitab tafsir juga tidak bisa dikatakan sebagai mufassir jika menyusun kitab tafsir dengan metode ‘tafsir bi al-ma’tsur’ (mengambil rujukan dari al-Qur’an dan hadits nabi). Jika mereka menggunakan metode ‘tafsir bi ar-ra’yi’ (mengambil rujukan dari ijtihad dan pemikiran sendiri) maka bisa dikatakan sebagai seorang mufassir. Minimal secara bahasa.
Kenapa Nabi Muhammad dan Sahabat tidak menyusun kitab tafsir, padahal mereka adalah mufassir haqiqi?
1. Pada masa kenabian dan sahabat belum ada percetakan dan penerbitan buku.
2. Pada masa tersebut teknik penulisan masih sangat sederhana. Dan juga rasul mewanti-wanti agar tidak menuliskan sesuatu selain al-Qur’an. Demi menjaga kesucian al-Qur’an.
3. Khazanah keilmuan pada masa kenabian sangat bergantung dengan kekuatan akal. Seperti hadits nabi yang baru-baru ini dituliskan (dimulai pada masa kholifah Umar bin Abdul Aziz dan dilanjutkan oleh Syihab az-Zuhri). Sama halnya dengan tafsir.
Comments
Post a Comment