Tafsir bil Ma'tsur dan Tafsir bir-Ra'yi

Tafsir bi al-Ma’tsur / Tafsir bi ar-Riwayah

1. Pengertian

Diambil dari kata atsar. Tafsir ini disandarkan kepada al-Qur’an dan Riwayat (Nabi, sahabat, tabi’in dsb).

2. Contoh Kitab Tafsir bi al-Ma’tsur

a. Jami’ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an (Ibnu Jurair at-Thabari)

b. Ma’alim at-Tanzil (Abu Muhammad Husain al-Baghawi)

c. Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim / Tafsir Ibnu Katsir (Al-Hafiz Ibnu Katsir al-Dimasyqi)

d. Ad-Durr al-Mansur (Imam Jalaluddin as-Suyuthi)

Tafsir bi ar-Ra’yi / Tafsir bi ad-Dirayah / Tafsir bi al-Ijtihad / Tafsir bi al-Ma’qul / Tafsir bi al-Istinbath

1. Pengertian

Diambil dari kata ra’yu (logika). Menurut Muhammad Ali as-Shabuni pengarang kitab Tafsir fi ayat al-Ahkam kata ra’yu bermakna ijtihad. Tafsir ini disandarkan kepada ijtihad dan logika mufassir.

2. Pembagian Tafsir bi ar-Ra’yi

a. Tafsir bi ar-Ra’yi al-Mahmud

[1] Maksudnya adalah ikhtiar untuk menemukan makna tafsir dari berbagai macam khazanah keilmuan.[2] Sahabat dan tabi’in sering melakukan ini. Diperbolehkan menafsirkan al-Qur’an dengan tafsir ini. Dilandasi oleh ayat ‘wa laqad yassarna al-qur’an lidzikri fa hal min muddakir’.

Syarat-syarat diterimanya tafsir ini adalah sebagai berikut:

- Memiliki kutipan dari Rasul yang terjaga dari dhaif dan maudhu.

- Berpegang pada pendapat sahabat yang bersifat mar’fu. Khusunya pada aspwek asbab an-nuzul.

- Berpegang kepada kemutlakan bahasa.

b. Tafsir bi ar-Ra’yi Madzmum

Adalah tafsir yang dilandasi oleh hawa nafsu dan pendapat semata, bukan dengan khazanah keilmuan.

Menurut Musai’id Sulaiman at-Thayyar orang yang menggunakan tafs a ir ini sangat dikecam dan hukumnya adalah haram, karena dilakukan atas kefanatikan golongan tertentu dan mengesampingkan agama.

Dalil keharamannya adalah ‘wa la taqif ma laisa laka bihi ‘ilm inna as-sam’a wal basor wal fuada kullu ulaika kana mas’ula’.

3. Keududukan Tafsir bi ar-Ra’yi

Tafsir ini memiliki perang penting dalam menjelasakan ayat-ayat yang belum ditafsirkan. Dan juga menyuguhkan pemahaman-pemahaman baru yang menjadikan al-Qur’an tetap re;evan sepanjang masa.

4. Kelebihan Tafsir bi ar-Ra’yi

Melaksanakan perintah Allah Swt. yaitu berijtihad. Mendisiplinkan ilmu al-Qur’an dan mengadaptasikannya dengan dinamasin pada kehidupan masa kini.

5. Pandangan ulama terhadap Tafsir bi ar-Ra’yi

Ada yang setuju dan juga ada yang menolak. Perbedaan mereka hanya bersifat lafdzi bukan haqiqi. Tafsir bi ar-Ra’yi diperbolehkan apabila sesuai dengan kaidah. Sebaliknya, jika atidak sesuai dengan kaidah maka tidak diperbolehkan.

6. Contoh Kitab Tafsir bi ar-Ra’yi

a. Mafatih al-Ghaib / Tafsir al-Kabir (Muhammad Fakhruddin ar-Razi)

b. Tafsir Jalalain (Jalaluddin as-Suyuthi & Jalaluddin al-Mahalli)

c. Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil (Imam Baidhowi)

d. Ruh al-Ma’ani / Tafsir al-Alusi (Syihabuddin al-Alusi)

e. Gharib al-Qur’an wa Raghaib al-Furqan (Nizam al-Din al-Hasan Muhammad an-Naysabury)

f. Zad al-Masir fi ‘Ilmi at-Tafsir

Comments

Popular Posts